Rabu, 06 Desember 2017

Budaya Tradisi dalam Sistem Mata Pencaharian (bagian III)

III. Peralatan Tradisi Pertanian
Tulus S

Alat-alat pertanian tidak lepas dari budaya manusia terutama masyarakat pedesaan. Masyarakat Jawa boleh dikatakan apapun yang dilakukan baik berupa bahasa, adat, nyanyian di dalamnya penuh simbol-simbol yang tersembunyi. Begitu juga alat-alat tradisi pertanian yang sekarang sudah jarang/tidak lagi dipakai oleh masyarakat petani. Era globalisasi sedikit banyak telah merubah tradisi tersebut yang katanya lebih menuju pada ke-modernisasi-an.

Sabtu, 14 Oktober 2017

BUDAYA TRADISI SELAMATAN (bagian pembuka)

Tulus S *

Upacara tradisi selamatan (slametan) ataupun gelar sesaji (sajen) bagi masyarakat Jawa seakan sudah menjadi pola kehidupan yang biasa dilaksanakan. Walau hal tersebut mengalami sebuah pergeseran bahkan pertentangan karena adanya sebuah perubahan dan pengaruh dari budaya luar. Sejak manusia Jawa lahir sudah diperkenalkan dengan tradisi-tradisi selamatan.

BUDAYA TRADISI SELAMATAN (bagian I)

Nilai Keselamatan Manusia Jawa
Tulus S

Kita sering mendengar  ungkapan suwargi  merupakan kalimat yang dipakai untuk mengawali nama atu sebutan  orang yang sudah meninggal dunia. Misalkan suwargi Rama Dirun, Suwargi Mbah Suto, Suwargi Eyang dan lain lain. Hal ini manusia Jawa berpikir bahwa orang yang telah meninggal dunia berada pada tempat yang menyenangkan, tempat yang tentram dan bahagia karena kata suwargi atau suwarga memiliki makna leksikal surga. Tidak mengherankan jika manusia Jawa mempunyai gegayuhan (cita-cita)  ingin berjumpa atau bersatu dengan Tuhannya. 

BUDAYA TRADISI SELAMATAN (bagian II)

Slametan Sebagai Inti Agama Jawa
Tulus S

Slametan atau selamatan merupakan sebuah wahana sebagai bentuk untuk mencapai keselamatan baik secara pribadi maupun kelompok.  Slametan sebagai tindakan ritual yang memuat pesan ajaran memayu hayuning bawana (mencari keselamatan dunia). Orang Jawa percaya bahwa ada sebuah kekuatan adikodrati di luar kemampuannya. Dengan cara mengadakan selamatan akan terjadi komunikasi, interaksi, kontak secara rohaniah kepada kekuatan tersebut. Slametan merupakan bentuk ritual mistik yang di dalamnya kaya pekerti simbolik. Yakni berupa inti religious Jawa. Sebagai inti religious Jawa slametan memuat konsep sentral bagi semua mistisme Jawa, sebagaimana terkandung dalam kalimat sangkan paraning dumadi (asal mula tujuan hidup). Maka segala perilaku slametan selalu tertuju pada ada yang sempurna.

BUDAYA TRADISI SELAMATAN (bagian III)

Slametan Sebagai simbolisasi
Tulus S

Dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa dikenal ; sinamun ing samudana, sifat semu, papane rasa pangrasa. Maksudnya adalah setiap pola hidup dan kehidupan dalam beraktivitas hampir selalu menggunakan simbol-simbol. Tindakan penuh rasa pangrasa (perasaan), perbuatan tidak semata-mata (samar/semu). Menurut Suwardi bahwa simbol –simbol itu merupakan gambaran sikap, kata-kata dan tindakan yang abstrak, pelik dan wingit.